25 tahun silam…..
Hujan deras berhenti, malam ini langit kembali cerah setelah hampir seharian menjalankan tugasnya menyebarkan kehidupan di bumi. Air kehidupan, air keberkahan. air ujian, air cobaan, air pembuktian.
Bukti seorang lelaki yang peduli terhadap keluarga. Sangat menyayangi keluarga. Berjuang demi istri dan anak-anaknya. Dengan sabar menerobos derasnya air hujan di hutan belantara. Sendiri, tanpa pelindung, tanpa payung atau mantel yang melindunginya dari hujan yang demikian besar.
Sepertinya tidak bosan hujan ini mengujinya. Langkahnya semakin di percepat karena gelapnya malam akan datang mengganti siang.
Sendiri…. Tanpa teman, tak ada alat komunikasi canggih seperti sekarang. Tak ada kendaraan umum karena hutan belantara ini masih asli. Jauh berbeda dengan sekarang. Pepohonan hutan yang menjadi saksi perjuangannya telah musnah. Diganti bangunan-bangunan, rumah-rumah, aspal besar. Bahkan gedung sekolah.
Sampai-sampai gedung sekolah tersebut tidak menyadari bahwa tanah tempat ia berdiri kokoh memiliki arti sejarah perjuangan seorang ayah.
Hujan belum reda, hari semakin gelap. Tak ada lampu jalan. Demikian juga senter. Dan mustahil menghidupkan obor. Karena pastinya akan padam oleh hujan.
Sebenarnya apa yang membuat ia sedemikian nekat menerobos hutan, saat hujan, dan ia sendiri tau pasti akan kemalaman. Dan lagi mengapa ia seorang diri?.
Sempat sebelum langit gelap, ia berhenti sejenak. Di lapangan rumput yang ia lewati. Ia menatap langit, ingin berteriak sekeras-kerasnya, marah. Menangis. Teringat anak-anaknya yang masih kecil,ia akan bekerja sambil mengurus keseharian anak-anaknya.
Memangnya kenapa dengan istrinya? Apa yang terjadi? Kemarin istrinya melepas kepergiaanya sambil menggendong buah hatinya yang masih kecil, umur 1,5 tahun masa dimana sang ayah malas untuk berangkat kerja. Masih ingin terus bermain bersama anak bungsunya. Harapannya, anak yang ditunggu kehadirannya, ditangisi kehadirannya. Paling disayang diantara anak-anaknya yang lain. Kehadirannya yang tidak disangka bahwa ia akan hidup.
Anak ini muncul dalam pikirannya, membuat ia semakin ingin berteriak keras.
Ya Allah…
Mengapa kau takdirkan semua ini…
Mengapa tidak saya saja yang Engkau panggil terlebih dahulu…
Mengapa harus dia…
Bagaimana dengan si kecil…
Ia masih sangat membutuhkan belaian seorang ibu
ia pasti rindu cerita ibu menjelang tidur
ia pasti sedih tatkala melihat teman-temannya menggandeng tangan ibu
ia pasti menangis melihat teman-temannya meminta jajan pada ibunya
ia pasti kangen di peluk ibu, dicium ibu. dimandikan ibu, diantarkan ibu kesekolah, dibela ibu, dimanja ibu.
ia pasti sangat ingin melihat wajah ibu.
umur 1,5 tahun belum bisa mengenal wajah ibu
umur 1,5 tahun masih belia
Disaat ia besar ia pasti sangat ingin berjumpa dengan ibunya.
Disaat ia mulai bicara ia sangat ingin yang pertama mendengarnya adalah ibu
Disaat ia mulai nakal, ia ingin ibu yang mengingatkan.
Disaat ia capek berjalan, ia ingin ibu yang menggendong
Disaat ia mulai sekolah, ia ingin ibu yang mengantarkan
Disaat ia juara di sekolah, ia ingin ibu ikut hadir
Disaat ia juara hafalan surat-surat pendek, ia ingin ibu ikut mendo'akannya
Disaat ia khatam mengaji, ia ingin ibu membelikan ia sepeda baru
Disaat ia menjadi yang terbaik disekolah ia ingin ibu yang pertama bangga
Disaat ia mendapat piala, ia ingin ibu yang pertama memberikan kata selamat
Disaat ia lulus, ia ingin ibu yang pertama beri hadiah
Disaat ia mulai mengenal lawan jenis, ia ingin ibu tempatnya berbagi
Disaat ia pergi merantau menuntut ilmu ia ingin ibu yang memberinya semangat
Disaat ia menemukan cintanya ia ingin ibu yang menuntunnya
Disaat ia menikah ia ingin melihat air mata bahagia ibunya
Disaat ia memiliki uang, ia ingin mengajak ibu jalan-jalan
Disaat ia beribadah ke tanah suci, ia ingin ibunya turut serta
Disaat ia sakit, ia ingin ibunya yang merawatnya
Disaat ia meniggal dunia, Ia ingin ibu berada di sampingnya
Namun…..
Engkau berkehendak lain.
Engkau panggil istriku saat anak-anakku masih belia
Engkau pisahkan mereka
Mengapa….???
Mengapaaaaa??
Mengapa ya Allah…….
***
Ingatannya 3 tahun silam muncul.
Saat itu………
Ia teringat sambutan bahagia istri tercinta menghilangkan keletihannya. Hujan yang deras sudah mulai mereda.
“ kang mas ada kado spesial untuk kang mas?
Saya hamil kang mas”
Tampak senyum sumringah di bibir sang pahlawan keluarga. Sosok lelaki yang bertanggung jawab. memberikan yang terbaik kepada keluarganya istri dan anak-anaknya. Ia pun memeluknya, berbisik di telingannya. Semoga Allah berikan yang terbaik buat calon bayi kita.
kini.... anak itu sudah besar dan bangga mengatakan love father and mother.
to be continue...
Home »
» love father and mother
love father and mother
Posted by Unknown
Posted on 00.40
with No comments


0 komentar:
Posting Komentar